Jumat, 30 Agustus 2013

Dulu Yang Menghadirkan Kini


Tulisan ini adalah cacatan ku, sedikit berbau pribadi,
tentang aku, hidup dan semua yang terjadi dalam kesehariaku.
Tidak ada paksaan bagi siapapun untuk membacanya...



Sudah beberapa hari aku berfikir untuk kembali menulis lagi,
tapi terlalu banyak hal kecil yang aku fikirkan sehingga aku lupa apa hal terbesar dari banyak hal kecil itu.
Semalam, tanpa sengaja aku ngobrol dengan salah satu teman kost, karena terus terang aku pulang ke kost dan sama sekali tidak tau apa yang akan aku lakukan untuk membunuh waktu.
I'm kind of nervous now, waiting for tomorrow and wish there will be something or somebody that can spend time with me.
So, satu-satunya yang terfikir adalah rumah.
Rumah lengkap dengan kedua orang tuaku, dengan aroma bumbu dan buah-buahan di dapur, aroma embun di pagi hari dan aroma potongan rumput di halamannya.
Aku home sick, berharap bisa berada dalam lingkungan orang-orang yang mencintaiku besok.
Back again, teman kost ku itu WNA, orang tua, keluarga dan teman-temannya di Madagaskar, dia bercerita tentang betapa home sick nya dia selama hampir 2 tahun tinggal di Indonesia.
Ya, aku patut bersyukur karena orang tuaku tidak benar-benar jauh dariku.

Terlepas dari itu semua, 
pemicu dari home sick ku adalah, entah kenapa dalam beberapa bulan kebelakang, aku merasa menjadi semakin "lemah", aku tidak berani menghadapi tantangan-tantangan, aku melulu bersikap negatif,
dan itu berdampak buruk.
Aku kehilangan keceriaan, aku kehilangan rasa bahagia dalam hidupku,
dan yang pasti I've never stop to feel regrets to my self.
Honestly, "regrets" it's sh*t. Regrets put people down and drive us crazy...!
Dan aku kehilangan banyak hal dan kesempatan karena penyesalan itu.

Tentu saja apa yang sudah berlalu tidak dapat diulangi lagi, apalagi untuk dirubah.
Kita semua sebenarnya tidak bisa melakukan apapun untuk masa yang sudah terjadi...
Teman ku itu bercerita, ayahnya pernah menasehatinya.
"Stop to feel regrets about your past,
because you live for future"
Entahlah aku harus berfikir apa...
Aku ngerasa bahwa keadaannya semakin menginjak-injakku, bahwa aku semakin takut menghadapi kenyataan tentang apa yang sudah aku lakukan pada masa laluku, tentang apa dan siapa aku pada hari ini.
Aku lupa bahwa dulu aku cukup kuat,
cukup kuat menghadapi semuanya (kadang dalam keadaan sendiri), hingga akhirnya aku bisa bertahan, face my fears and defeat it hingga sekarang.
But now, aku kehilangan pejuang itu dalam diriku.

Tapi tentu saja ini semua pasti beralasan, bukan hanya sesuatu yang tiba-tiba hadir dalam fikiranku.
Tapi aku tidak mau membahasnya sekarang, karena aku takut dalam kondisi emosi yang gak stabil ini hanya akan membuatku semakin merasa buruk, menyalahkan orang lain, atau bahkan menyalahkan Tuhan.
Aku cuma sedang mencoba meredam semuanya,
mengajari fikiranku untuk kembali positif, tidak lagi menyalahkan dan menuntut keadaan,
aku hanya ingin kembali bisa ceria dan berani menghadapi hidup,
karena hidup memang tidak bisa dihindari, hidup juga tidak bisa hanya dijalani.
Hidup semestinya dihadapi,
terserah akan dihadapi dengan senyum, dengan tangis, tawa atau bahkan amarah.
Aku ingin menata semua keberanian itu lagi, membuatnya ada lagi dan memperbaiki bulan-bulan ku yang sempat down ini.
Aku ingin memperbaiki semuanya sebelum terlambat,
sebelum detik jam menuju 12 pada malam ini,
sebelum kereta kudaku kembali menjadi sebuah labu,
sebelum aku menua,
sebelum aku merasa kesepian lagi.

Tapi aku akan tetap menunggu,
siapa orang-orang yang memang benar-benar ada untuk hidupku.


Padangpanjang, H-1

Kamis, 22 Agustus 2013

Seperti Sebuah Omong Kosong #1




Mungkin ini adalah tulisanku yang membuka sedikit aib,
entah kenapa aku berfikir bahwa aku harus menuliskannya...


Usia adalah sesuatu yang sebenarnya hanya kita jalani, usia bercerita tentang akan bagaimana kita mengahadapi kehidupan, usia juga yang mau tidak mau mengajarkan kita tentang segalanya.
Ini tentang usia, dan aku dibekap oleh usia ku pada saat ini,


merenung tentang apa yang sebenarnya sudah aku lakukan, tentang seberapa besar aku telah menjadi sesuatu bagi orang lain, bagaimana aku setelah hari ini, bagaimana aku menjalani kehidupanku kedepannya.

Tapi yang ingin aku akui pada saat ini adalah rasa sepiku,
pencarian tanpa henti untuk tempat berbagi masa depanku, pencarian teman untuk sisa usiaku.
Beberapa hari ini Tuhan kembali menggelitikku dengan cerita masa lalu, kesalahan-kesalahan fatalku sebagai perempuan yang sudah menjatuhkan nilaiku selama ini, Tuhan mengirimkan aku beberapa laki-laki yang dulu pernah menjadi "sahabat" bersenang-senang untukku, dan entah kenapa, respon pertama ku menghadapi mereka adalah marah.
Marah dengan kemarahan sempurna.
Marah dengan marah yang seolah-olah menjadi satu-satunya tameng untukku dalam mempertahankan harga diriku.
Aku jadi ingin bersumpah demi Tuhan bahwa aku ingin berubah menjadi lebih baik dalam menjaga nama baikku...!

Seseorang sering mengingatkanku tentang ini, bahwa aku terlalu sering menganggap orang lain menilaiku buruk, aku terlalu sensitif terhadap respon orang lain.
Ibu ku dulu juga sering mengingatkan ini...
I know,
life is never easy for everyone, everybody have they're own problem.
Aku tidak lagi bisa menutupi semua sepi ini setelah bertahun-tahun menjalani semuanya, hingga beberapa orang terpaksa menjadi bulan-bulanan untuk mendengarkan cerita-cerita emosional yang membosankan dari ku.
Bukan aku tidak mensyukuri segala nikmat dari Tuhan, aku hanya mulai lelah dengan penantian ini.

Bertahun-tahun yang lalu aku aku pernah jatuh cinta, jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dan itu sakit, bertahun-tahun sebelum itu, aku pernah terluka, luka yang sesakit-sakitnya sebelum aku tau rasanya jatuh cinta, lalu aku menjadi dendam dengan ini semua, seperti lapisan bola es, semakin menggelinding ke bawah, semakin besar dan banyak yang digilasnya,
tapi semakin besar dan semakin jauh dia menggelinding, maka akan semakin banyak benturan yang dihasilkan.
Tapi benturan tetap benturan, meskipun mampu membentuk arah, benturan juga selalu terasa menyakitkan...
Aku hidup dalam lingkungan yang berbahagia, dalam keluarga yang penuh kasih sayang, dengan teman-teman yang setia, dengan prestasi yang mungkin dicemburui orang lain.
Ini dia, ini sisi duniawi ku yang paling kubenci tapi tidak bisa kuhindari, semuanya terasa tidak pernah cukup, semua terasa tidak sempurna, terutama untuk yang satu itu.
Terus terang aku malu untuk menceritakan ini semua,
tapi siapa yang bisa menutupi luka dengan topeng selama usianya...?
Aku hanya ingin semua ini tidak sia-sia, aku hanya ingin penantian ini memiliki ujung yang indah karena lama kelamaan aku semakin cemburu dengan mereka semua,
aku merasa terkucilkan, jauh di belakang orang lain...

Aaahhh...
Ini masih panjang, masih banyak yang ingin aku tuliskan tapi aku sudah kehabisan kata-kata,
habis karena terbakar panas darahku, habis karena luntur oleh air mata,
habis karena tidak ada yang mengingatkanku bahwa ini hanya sebuah cerita.
Cerita yang kuharapkan benar-benar habis agar aku bisa memulai cerita yang baru.

Aku lelah,
dan hanya Tuhan yang mengerti lelahku ini...

Jumat, 09 Agustus 2013

Lebaran, inikah Lebaran...?

*Tidak ada niat menggurui dalam tulisan ini,
semuanya lahir dari logika yang melintasi hati,
maaf apabila ada kesamaan cerita, maka harap dimaklumi saja ya... ^_^


Idul Fitri ato yang identik dengan istilah "lebaran" pasti bukan sesuatu yang asing lagi di telinga kita semua. Semua kita tau bahwa lebaran adalah kemenangan bagi umat muslim dunia,
hari dimana kita bisa kembali memulai kehidupan yang baru sebagai seorang umat, kembali bisa makan di siang hari, kembali berkumpul bareng keluarga atau kembali membeli banyak hal baru untuk digunakan.

Kemaren sore aku terpana melihat TV, di salah satu stasiun TV menayangkan berita tentang shalat Ied di jalur Gaza.
Ini bukan tentang Gaza dan peperangan tiada hentinya,ini bukan tentang kemanusiaannya, tapi tentang pakaian yang mereka gunakan untuk shalat Ied.
Aku tidak melihat keseragaman mukena berwarna putih dengan rajutan indah di ujung kainnya, tapi yang kulihat hanyalah pakaian muslim biasa dengan warna-warna biasa, dan shalat yang lebih khusu'.
Heran, aku bertanya pada adikku yang kebetulan bersekolah di pesantren dan sejak SD sudah mendalami ilmu agama, ternyata shalat tidak harus menggunakan mukena, cukup pakaian yang menutupi aurat dan yang penting bersih.
(mungkin akan ada orang yang berkata --> "baru tau ya, Rima. Kemana aja...?")

Ya... Faktanya aku baru tau sejelas ini...! Dan tiba-tiba aku jadi berfikir tentang makna lebaran yang kita jalani pada zaman sekarang.
Selama bulan Ramadhan kita diajari dan mengajari diri menjadi lebih sabar, tenang, berbagi dan menahan segala nafsu dunia, tapi pada akhir Ramadhan kita sudah merusak itu semua.
Selalu keluar pertanyaan;
"Udah beli baju lebaran...?"
"Udah beli kue...?"
"Rendang ato opornya berapa kilo...?"
"Di rumah masak apa, Lontong atau ketupat...?"
"Lebih baik pulang kampung pake mobil baru ya...?"
"Toples kue yang lama kita ganti yang baru aja ya...?"
"Sofa udah gak modelnya lagi, apa gak diganti...?"
Atau ribuan pertanyaan menjerumuskan yang lain.

Beberapa hari menjelang lebaran, mall-mall dipenuhi ratusan bahkan ribuan orang, pasar-pasar juga begitu, dimana-mana orang berbelanja besar-besaran,
duit dihamburkan sebanyak-banyaknya untuk merayakan kemenangan...!!!
Kemenangan apa...?
Kemenangan menahan nafsu duniawi selama sebulan penuh...?
Kemenangan karena Ramadhan mau gak mau harus berakhir...?
Lalu kita kembali riya', lupa cara berbagi, lupa cara menahan, lupa cara bersabar.
Kita lupa hakikat dari Ramadhan tentang merasakan apa yang dirasakan umat muslim yang tidak bisa hidup berlimpah.
Aku bukan seorang muslimah sejati yang putih suci dari dosa,
aku hanya seorang perempuan duniawi biasa yang kadang mengejar nafsu juga.
Tapi entah kenapa, tersentak rasanya menyaksikan semua ini, bahwa kita sudah menafikkan kembali apa yang kita pelajari selama sebulan kebelakang hanya karena kita salah menafsirkan kata "kemenangan".
Apa setelah ini kita akan kembali berdoa dengan berlinang air mata, ato berbagi dengan saudara sesama muslim, ato bersedekah kepada fakir, ato sabar menahan amarah dan nafsu dunia, ato bersilaturahim lagi dengan tetangga...?

Kenapa waktu lebaran orang gila-gilaan meng-upload foto masakan lebaran dan foto menggunakan baju lebarannya ke jejaring sosial...?
Itukah hikmah sabar selama ini...?
Aku hanya ingin menulis tentang ini, abaikan saja dulu orang-orang miskin yang tidak memiliki cukup uang untuk membeli baju baru, kue lebaran yang banyak, memasak rendang ato opor ayam berkilo-kilo.
Lupakanlah itu semua, lupakan saja dulu...
Tapi fikirkan apa yang telah kita lakukan, kita perbuat untuk merayakan lebaran.
Benarkah ini masih dalam batas wajar...?
Benarkah ini belum merusak pelajaran iman kita selama Ramadhan...?
Hanya Allah yang bisa menjawabnya...


*Lebaran kedua, 9 Agustus 2013.
-21 jelang 27.