Selasa, 15 Oktober 2013

Being Indonesian, Bangga Donk...!


*Catatan ini hanyalah sebatas informasi, 
tidak ada niat menggurui atau men-judge siapapun dalam tulisan ini.
Peace...!



Ada fenomena yang luar biasa sekarang berkembang di negara kita.
Gak mo kalah saing, kota kecil tempat aku tinggal dan juga kota kecil tempat orang-orang tinggal juga ikutan ngikutin fenomena ini.
Guess what...?!?
Hhhmm... Korenism..!
Ini adalah tsunami budaya baru yang luar biasa memberikan pengaruh pada manusia-manusia, (yang entah akan kita kasihani ato mungkin biasa and wajar buat sebagian orang),
kalo kita ngomong K-Pop maka akan ada banyak hal yang terlintas secara super duper cepat dalam benak, misalnya;
  • Korean Song
  • Korean Style (baju, potongan rambut, dll yang bersangkutan dengan fashion)
  • Korean Face (mata besar, hidung mancung, bibir pink menawan, pipi pas-pasan, bla bla bla)
  • Dan yang terakhir, yang paling parah, Korean Skin.
Mari kita buka google ato wikipedia ato apapun web yang punya landasan legal dalam memberikan informasi, coba tanyain bagaimana proporsi badan, rambut, bentuk wajah dan warna kulit asli dari ras-ras asli yang berkembang di Indonesia, negara kita tercinta ini.

Kadang rasanya heran aja ngeliat pola fikir kita yang lupa daratan, kadang malah jadi kacang yang lupa kulitnya cuma karena pola fikir kapitalis yang udah memberikan brand terhadap kata "cantik". Apa kita lupa bahwa Indonesia punya banyak wujud cantik alami yang gak perlu dirubah dengan cream pemutih, salon, pemancung hidung, apalagi sampai operasi plastik segala.

Jujur nech, aku punya seorang teman, dia aslinya dari Kor-Sel, nama gak usah aku sebutin yach...?
Dia seorang laki-laki yang emang hidup dan gede di Korea, dengan jujurnya dia cerita ke aku kalo ada sebuah budaya yang aneh di negaranya, yaitu operasi plastik.
Disana orang-orang menganggap operasi plastik adalah hal yang wajar dan biasa saja, mereka merubah bentuk wajah, tubuh bahkan warna kulit juga, temen ku itu berani bilang kalo aslinya cewe korea -yang bukan turunan bule, indo kalo kita nya- jauh lebih jelek dari pada orang Indonesia.
Simple, itu artinya apa yang kita nilai luar biasa, kita tiru abis-abisan dari budaya K-Pop itu bisa jadi adalah hasil rekayasa medis yang memakan budget besar. Artinya lagi, produk-produk pemutih, pelangsing dan pemancung yang dijual di pasaran ato via online itu bisa jadi tidak akan membuat pelanggannya benar-benar sempurna seperti "idola"nya.

Kenapa kita tidak berani bangga menjadi warga negara Indonesia dengan budaya dan keindahan alaminya.
Hayoo... Siapa yang berani bilang gadis-gadis asli Bali yang kulitnya kecoklatan itu jelek...?
Mereka perfect sebagai seorang perempuan dengan keindahan alaminya, begitu juga dengan gadis-gadis melayu dengan kulit kuning langsat dan matanya indahnya, atau bahkan perempuan dari Indonesia timur dengan kulit gelap, hidung mancung dan badan proporsionalnya.

Perempuan asli Indonesia itu aslinya cantik lho, seharusnya kita bangga dengan yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Mungkin banyak banget diantara kita yang gak tau kalo perempuan-perempuan Eropa dan Amerika (kecuali Latin), justru berlomba-lomba mendapatkan kulit seperti kulit asli kita (informasi ini valid, didapat dari beberapa teman ber-kewarganegaraan German, USA, Hungaria dan Irlandia).

Lalu kenapa kita masih kemakan obralan kapitalis yang udah bikin kita lupa tentang jati diri ke-Indonesiaan kita...?
Bukankah kita semestinya bangga karena punya berbagai suku bangsa dan agama, berbagai macam budaya dan keindahan alam yang orang lain gak punya (bahkan ada yang sampai nekad nge-klaim budaya kita lho).
Keberagaman ini bikin kita indah dan cantik secara alami, jadi kenapa harus berpura-pura menjadi "orang" lain...?
Mari bangga menjadi Orang Indonesia...!


^_^

Jumat, 30 Agustus 2013

Dulu Yang Menghadirkan Kini


Tulisan ini adalah cacatan ku, sedikit berbau pribadi,
tentang aku, hidup dan semua yang terjadi dalam kesehariaku.
Tidak ada paksaan bagi siapapun untuk membacanya...



Sudah beberapa hari aku berfikir untuk kembali menulis lagi,
tapi terlalu banyak hal kecil yang aku fikirkan sehingga aku lupa apa hal terbesar dari banyak hal kecil itu.
Semalam, tanpa sengaja aku ngobrol dengan salah satu teman kost, karena terus terang aku pulang ke kost dan sama sekali tidak tau apa yang akan aku lakukan untuk membunuh waktu.
I'm kind of nervous now, waiting for tomorrow and wish there will be something or somebody that can spend time with me.
So, satu-satunya yang terfikir adalah rumah.
Rumah lengkap dengan kedua orang tuaku, dengan aroma bumbu dan buah-buahan di dapur, aroma embun di pagi hari dan aroma potongan rumput di halamannya.
Aku home sick, berharap bisa berada dalam lingkungan orang-orang yang mencintaiku besok.
Back again, teman kost ku itu WNA, orang tua, keluarga dan teman-temannya di Madagaskar, dia bercerita tentang betapa home sick nya dia selama hampir 2 tahun tinggal di Indonesia.
Ya, aku patut bersyukur karena orang tuaku tidak benar-benar jauh dariku.

Terlepas dari itu semua, 
pemicu dari home sick ku adalah, entah kenapa dalam beberapa bulan kebelakang, aku merasa menjadi semakin "lemah", aku tidak berani menghadapi tantangan-tantangan, aku melulu bersikap negatif,
dan itu berdampak buruk.
Aku kehilangan keceriaan, aku kehilangan rasa bahagia dalam hidupku,
dan yang pasti I've never stop to feel regrets to my self.
Honestly, "regrets" it's sh*t. Regrets put people down and drive us crazy...!
Dan aku kehilangan banyak hal dan kesempatan karena penyesalan itu.

Tentu saja apa yang sudah berlalu tidak dapat diulangi lagi, apalagi untuk dirubah.
Kita semua sebenarnya tidak bisa melakukan apapun untuk masa yang sudah terjadi...
Teman ku itu bercerita, ayahnya pernah menasehatinya.
"Stop to feel regrets about your past,
because you live for future"
Entahlah aku harus berfikir apa...
Aku ngerasa bahwa keadaannya semakin menginjak-injakku, bahwa aku semakin takut menghadapi kenyataan tentang apa yang sudah aku lakukan pada masa laluku, tentang apa dan siapa aku pada hari ini.
Aku lupa bahwa dulu aku cukup kuat,
cukup kuat menghadapi semuanya (kadang dalam keadaan sendiri), hingga akhirnya aku bisa bertahan, face my fears and defeat it hingga sekarang.
But now, aku kehilangan pejuang itu dalam diriku.

Tapi tentu saja ini semua pasti beralasan, bukan hanya sesuatu yang tiba-tiba hadir dalam fikiranku.
Tapi aku tidak mau membahasnya sekarang, karena aku takut dalam kondisi emosi yang gak stabil ini hanya akan membuatku semakin merasa buruk, menyalahkan orang lain, atau bahkan menyalahkan Tuhan.
Aku cuma sedang mencoba meredam semuanya,
mengajari fikiranku untuk kembali positif, tidak lagi menyalahkan dan menuntut keadaan,
aku hanya ingin kembali bisa ceria dan berani menghadapi hidup,
karena hidup memang tidak bisa dihindari, hidup juga tidak bisa hanya dijalani.
Hidup semestinya dihadapi,
terserah akan dihadapi dengan senyum, dengan tangis, tawa atau bahkan amarah.
Aku ingin menata semua keberanian itu lagi, membuatnya ada lagi dan memperbaiki bulan-bulan ku yang sempat down ini.
Aku ingin memperbaiki semuanya sebelum terlambat,
sebelum detik jam menuju 12 pada malam ini,
sebelum kereta kudaku kembali menjadi sebuah labu,
sebelum aku menua,
sebelum aku merasa kesepian lagi.

Tapi aku akan tetap menunggu,
siapa orang-orang yang memang benar-benar ada untuk hidupku.


Padangpanjang, H-1

Kamis, 22 Agustus 2013

Seperti Sebuah Omong Kosong #1




Mungkin ini adalah tulisanku yang membuka sedikit aib,
entah kenapa aku berfikir bahwa aku harus menuliskannya...


Usia adalah sesuatu yang sebenarnya hanya kita jalani, usia bercerita tentang akan bagaimana kita mengahadapi kehidupan, usia juga yang mau tidak mau mengajarkan kita tentang segalanya.
Ini tentang usia, dan aku dibekap oleh usia ku pada saat ini,


merenung tentang apa yang sebenarnya sudah aku lakukan, tentang seberapa besar aku telah menjadi sesuatu bagi orang lain, bagaimana aku setelah hari ini, bagaimana aku menjalani kehidupanku kedepannya.

Tapi yang ingin aku akui pada saat ini adalah rasa sepiku,
pencarian tanpa henti untuk tempat berbagi masa depanku, pencarian teman untuk sisa usiaku.
Beberapa hari ini Tuhan kembali menggelitikku dengan cerita masa lalu, kesalahan-kesalahan fatalku sebagai perempuan yang sudah menjatuhkan nilaiku selama ini, Tuhan mengirimkan aku beberapa laki-laki yang dulu pernah menjadi "sahabat" bersenang-senang untukku, dan entah kenapa, respon pertama ku menghadapi mereka adalah marah.
Marah dengan kemarahan sempurna.
Marah dengan marah yang seolah-olah menjadi satu-satunya tameng untukku dalam mempertahankan harga diriku.
Aku jadi ingin bersumpah demi Tuhan bahwa aku ingin berubah menjadi lebih baik dalam menjaga nama baikku...!

Seseorang sering mengingatkanku tentang ini, bahwa aku terlalu sering menganggap orang lain menilaiku buruk, aku terlalu sensitif terhadap respon orang lain.
Ibu ku dulu juga sering mengingatkan ini...
I know,
life is never easy for everyone, everybody have they're own problem.
Aku tidak lagi bisa menutupi semua sepi ini setelah bertahun-tahun menjalani semuanya, hingga beberapa orang terpaksa menjadi bulan-bulanan untuk mendengarkan cerita-cerita emosional yang membosankan dari ku.
Bukan aku tidak mensyukuri segala nikmat dari Tuhan, aku hanya mulai lelah dengan penantian ini.

Bertahun-tahun yang lalu aku aku pernah jatuh cinta, jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dan itu sakit, bertahun-tahun sebelum itu, aku pernah terluka, luka yang sesakit-sakitnya sebelum aku tau rasanya jatuh cinta, lalu aku menjadi dendam dengan ini semua, seperti lapisan bola es, semakin menggelinding ke bawah, semakin besar dan banyak yang digilasnya,
tapi semakin besar dan semakin jauh dia menggelinding, maka akan semakin banyak benturan yang dihasilkan.
Tapi benturan tetap benturan, meskipun mampu membentuk arah, benturan juga selalu terasa menyakitkan...
Aku hidup dalam lingkungan yang berbahagia, dalam keluarga yang penuh kasih sayang, dengan teman-teman yang setia, dengan prestasi yang mungkin dicemburui orang lain.
Ini dia, ini sisi duniawi ku yang paling kubenci tapi tidak bisa kuhindari, semuanya terasa tidak pernah cukup, semua terasa tidak sempurna, terutama untuk yang satu itu.
Terus terang aku malu untuk menceritakan ini semua,
tapi siapa yang bisa menutupi luka dengan topeng selama usianya...?
Aku hanya ingin semua ini tidak sia-sia, aku hanya ingin penantian ini memiliki ujung yang indah karena lama kelamaan aku semakin cemburu dengan mereka semua,
aku merasa terkucilkan, jauh di belakang orang lain...

Aaahhh...
Ini masih panjang, masih banyak yang ingin aku tuliskan tapi aku sudah kehabisan kata-kata,
habis karena terbakar panas darahku, habis karena luntur oleh air mata,
habis karena tidak ada yang mengingatkanku bahwa ini hanya sebuah cerita.
Cerita yang kuharapkan benar-benar habis agar aku bisa memulai cerita yang baru.

Aku lelah,
dan hanya Tuhan yang mengerti lelahku ini...

Jumat, 09 Agustus 2013

Lebaran, inikah Lebaran...?

*Tidak ada niat menggurui dalam tulisan ini,
semuanya lahir dari logika yang melintasi hati,
maaf apabila ada kesamaan cerita, maka harap dimaklumi saja ya... ^_^


Idul Fitri ato yang identik dengan istilah "lebaran" pasti bukan sesuatu yang asing lagi di telinga kita semua. Semua kita tau bahwa lebaran adalah kemenangan bagi umat muslim dunia,
hari dimana kita bisa kembali memulai kehidupan yang baru sebagai seorang umat, kembali bisa makan di siang hari, kembali berkumpul bareng keluarga atau kembali membeli banyak hal baru untuk digunakan.

Kemaren sore aku terpana melihat TV, di salah satu stasiun TV menayangkan berita tentang shalat Ied di jalur Gaza.
Ini bukan tentang Gaza dan peperangan tiada hentinya,ini bukan tentang kemanusiaannya, tapi tentang pakaian yang mereka gunakan untuk shalat Ied.
Aku tidak melihat keseragaman mukena berwarna putih dengan rajutan indah di ujung kainnya, tapi yang kulihat hanyalah pakaian muslim biasa dengan warna-warna biasa, dan shalat yang lebih khusu'.
Heran, aku bertanya pada adikku yang kebetulan bersekolah di pesantren dan sejak SD sudah mendalami ilmu agama, ternyata shalat tidak harus menggunakan mukena, cukup pakaian yang menutupi aurat dan yang penting bersih.
(mungkin akan ada orang yang berkata --> "baru tau ya, Rima. Kemana aja...?")

Ya... Faktanya aku baru tau sejelas ini...! Dan tiba-tiba aku jadi berfikir tentang makna lebaran yang kita jalani pada zaman sekarang.
Selama bulan Ramadhan kita diajari dan mengajari diri menjadi lebih sabar, tenang, berbagi dan menahan segala nafsu dunia, tapi pada akhir Ramadhan kita sudah merusak itu semua.
Selalu keluar pertanyaan;
"Udah beli baju lebaran...?"
"Udah beli kue...?"
"Rendang ato opornya berapa kilo...?"
"Di rumah masak apa, Lontong atau ketupat...?"
"Lebih baik pulang kampung pake mobil baru ya...?"
"Toples kue yang lama kita ganti yang baru aja ya...?"
"Sofa udah gak modelnya lagi, apa gak diganti...?"
Atau ribuan pertanyaan menjerumuskan yang lain.

Beberapa hari menjelang lebaran, mall-mall dipenuhi ratusan bahkan ribuan orang, pasar-pasar juga begitu, dimana-mana orang berbelanja besar-besaran,
duit dihamburkan sebanyak-banyaknya untuk merayakan kemenangan...!!!
Kemenangan apa...?
Kemenangan menahan nafsu duniawi selama sebulan penuh...?
Kemenangan karena Ramadhan mau gak mau harus berakhir...?
Lalu kita kembali riya', lupa cara berbagi, lupa cara menahan, lupa cara bersabar.
Kita lupa hakikat dari Ramadhan tentang merasakan apa yang dirasakan umat muslim yang tidak bisa hidup berlimpah.
Aku bukan seorang muslimah sejati yang putih suci dari dosa,
aku hanya seorang perempuan duniawi biasa yang kadang mengejar nafsu juga.
Tapi entah kenapa, tersentak rasanya menyaksikan semua ini, bahwa kita sudah menafikkan kembali apa yang kita pelajari selama sebulan kebelakang hanya karena kita salah menafsirkan kata "kemenangan".
Apa setelah ini kita akan kembali berdoa dengan berlinang air mata, ato berbagi dengan saudara sesama muslim, ato bersedekah kepada fakir, ato sabar menahan amarah dan nafsu dunia, ato bersilaturahim lagi dengan tetangga...?

Kenapa waktu lebaran orang gila-gilaan meng-upload foto masakan lebaran dan foto menggunakan baju lebarannya ke jejaring sosial...?
Itukah hikmah sabar selama ini...?
Aku hanya ingin menulis tentang ini, abaikan saja dulu orang-orang miskin yang tidak memiliki cukup uang untuk membeli baju baru, kue lebaran yang banyak, memasak rendang ato opor ayam berkilo-kilo.
Lupakanlah itu semua, lupakan saja dulu...
Tapi fikirkan apa yang telah kita lakukan, kita perbuat untuk merayakan lebaran.
Benarkah ini masih dalam batas wajar...?
Benarkah ini belum merusak pelajaran iman kita selama Ramadhan...?
Hanya Allah yang bisa menjawabnya...


*Lebaran kedua, 9 Agustus 2013.
-21 jelang 27.

Rabu, 31 Juli 2013

Antara Petasan dan Boom

Identik banget kalo udah ramadhan menjelang lebaran, ato tahun baru,
ada banyak bunyi petasan terdengar.
Kadang bunyinya dari kejauhan seperti menggelegar, memecahkan kesunyian dan bersahut-sahutan.
Aku,
selalu takut mendengarnya...

Entah atas alasan apaun orang selalu memanfaatkan moment ini dengan bunyi-bunyian itu.
Kadang sepintas seperti manusia berbahagia mendengar ada sesuatu di ledakkan,
kadang terasa seperti sedang meluapkan kemarahan ato emosi yang selama ini tidak sempat untuk 

dilepaskan.
Apa memang itu maksud dari pelepasan petasan itu...?

Kita manusia-manusia yang sering gagap dalam menanggapi suatu keadaan,
memilih solusi dengan mendekam emosi hingga suatu saat emosi itu meledak seperti sebuah boom yang 

bersumbu panjang.
Kita kadang lupa dimana batasan dan bahkan awalan dari emosi itu,
lalu terjebak pada pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan diri sendiri.
Akhirnya lari pada keadaan yang menyalahkan orang lain.

Malam ini dari dalam kamar terdengar ledakan-ledakan petasan yang cukup besar,
menggema sampai pada bayangan kematian orang-orang di tempat yang sedang berperang.
Aku tertegun membayangkan itu bukan suara petasan, tapi suara boom, di iringi jerit tangis orang-orang 

yang kesakitan.
Ah, khayalku semakin tinggi...

Aku-tentu-jadi ingat tentang diriku sendiri,
yang sering meledak-ledak ketika emosi, yang kadang berimbas pada sakit yang dirasakan orang lain.
Disaat-saat seperti itulah aku tidak lagi mengenali belas kasih, kesabaran.
Entah kenapa harus ada bunyi petasan malam ini,
entah kenapa pada minggu-minggu ini,
entah kenapa harus pada bulan ramadhan ini...?

Menekur sendiri,
ada pertanyaan-pertanyaan memalukan yang terbersit dalam fikiranku,
sekalipun ku alas dengan logika...
Malam ini, berharap aku bukan petasan itu, bukan boom dengan sumbu waktu,
bukan pula sumbu dari ledakan pertanyaan dalam 31 hari lagi.
Banyak harap, aku takut harapan juga akan menjadi pemicu dari ledakan itu,
entah itu hanya petasan entah itu sebuah boom.

H-31 < 27

Selasa, 23 Juli 2013

KAPTEN! MANA KAPTEN...???


Ceritanya tentang manusia lagi lah, biar aja orang bilang ini blog curhat... :P

Bagaimana rasanya bertemu dengan orang yang tepat tapi pada waktu dan tempat yang salah...?
Bukan itu yang sebenarnya akan kita bahas,
tapi kejadian lainnya... (rada mirip sich)
Aku bertemu dengan orang yang salah pada waktu dan tempat yang berbeda.
Sekian lama gak posting sebenarnya ada banyak cerita, banyak kisah, banyak ode yang tercipta.
Naskah sinetron kejar tayang saja rasanya sudah bisa aku ciptakan karena beberapa kejadian buruk yang kebetulan datang beruntun,
tapi syukurlah hidupku bukan cerita sinetron yang ending nya tergantung rating (karena biasanya rating sinetron tergantung banyaknya tetes air mata aktor utama).
Ini hari baik karena mood ku kembali -dipaksain- baik,
tapi aku tidak bisa bercerita terlalu detail disini karena blog ini buat umum jadi beberapa hal mesti di sensor, lebih kurang seperti film American Pie kalo masuk ke Indonesia yang udah di tonton duluan oleh Departemen Agama.

Apakah yang sedang terjadi...?
Ibaratkan kapal yang sedang berlayar di samudra dalam pekatnya malam tak berbintang dan di hempas gelombang badai (yang bilang lebay aku kutukin buat ngerasain ini...!).
Inilah yang terjadi,
cerita hidup itu seperti montage-montage, ceritanya banyak, permasalahannya banyak dan berbeda-beda namun tetap menjadi satu kesatuan cerita.
Meskipun begitu, jangan sesekali menganggap ini cerita sinetron karena sinetron mendidik kita dengan cara yang keterlaluan, standarnya sinetron itu tentang seorang perempuan miskin yang ditaksir oleh lelaki kaya yang sudah bertunangan dengan saudara sepupunya (biasanya-perempuan dengan alis mata sadis dan memakai eye shadow ungu tua kehitaman), si sepupu tidak ingin pertunangannya gagal hingga harus berjuang untuk menghancurkan perasaan lelaki kaya terhadap perempuan miskin dibantu oleh emak si sepupu yang bergaya orang kaya namun terlilit hutang.
Cerita di teruskan dengan siksaan dan air mata untuk si perempuan miskin, nenek lelaki kaya juga membenci perempuan miskin, om nya juga benci, keponaan nya juga benci, pembantunya juga benci, tetangganya juga benci, nenek tetangganya juga benci, om nya tetangga juga benci, keponaan tetangganya juga benci, pembantunya tetangga juga benci, tetangganya tetangga juga benci, teman se kost tetangga juga benci, temen kuliah dari temen kost nya tetangga juga benci, pokoknya semua benci sama perempuan miskin karena naskahnya bilang begitu...!
Tinggal lah perempuan miskin seorang diri meratapi hidup yang merana malang nestapa, hanya ibunya, yang seorang penjual goreng, yang sayang ama si perempuan miskin, karena dia anaknya dan di naskah di bilang begitu.
Pada suatu hari perempuan miskin panik, kalut galau dan stress, dia pingsan di jalan, dibantu seorang dokter (super hero dadakan-syuting 3 scene) membuka fakta bahwa perempuan miskin adalah anak kandung dari ibu lelaki kaya, setelah cek gen, ternyata lelaki kaya hanyalah anak yang tertukar di rumah sakit.
Semua mendadak menjadi baik dengan si perempuan miskin, semuanya baik, neneknya baik, om nya baik dan semua-semua menjadi baik (capek nulis lagi nama-nama yang udah di sebut di atas), tinggallah si sepupu yang beralis mata sadis dan eye shadow ungu tua kehitaman menjadi bingung.
Perempuan miskin menjadi kaya, menerima lelaki kaya yang mendadak miskin sebagai suaminya, berbagi harta bersama, keluarga aman sentosa, bahagia, sejahtera, adil makmur merata seperti yang tertulis dalam Pancasila.

Happy ending...????

Belum tentu, kawan...!

Ini tergantung rating sinetronnya, kalo rating naik, iklan masuk semakin banyak, ini artinya sinetron harus dilanjutkan biar kantong produser dan semua tim bertambah...
Setelah hidup bahagia, ternyata si perempuan miskin yang menjadi kaya mendadak kena kanker (korea-isme), sebelum mati dia tersiksa lagi karena kebetulan lagi hamil mo melahirkan.
Ini artinya si sepupu beralis sadis dengan eye shadow ungu tua kehitaman bisa beraksi lagi, menyiksa lagi, membuat tangis lagi. Perempuan miskin yang menjadi kaya dan sedang hamil mo melahirkan tapi kena kanker, menjadi lebih sering sholat, pake mukena, pake jilbab (karena tayangnya di bulan ramadhan).
Endingnya...?
Gampang, perempuan miskin mendadak kaya, sehat sampai lebaran, anaknya lucu keriting-keriting rambutnya, mereka kembali bahagia, lalu abis lebaran dia mati aja...

Lho...? Lho kok...???
Soalnya rating sinetron berkurang, penonton sinetron pulang kampung, sibuk masak rendang, opor, sate, dan belanja baju baru.

What The Fucking Shit Life Story...!!!

Hidup bukan sinetron, hidup itu ya hidup...
Seperti yang sedang aku hadapi sekarang, montage-montagenya kebetulan ber-isi-kan cerita sakit,
sakit hati, sakit badan dan sakit otak.
Tapi bukan berarti hidup gak ada baiknya, kadang hidup baik, kebangetan malah baiknya.
Aku gak curhat kok sekarang, soalnya lagi males di bilang melankolic, dan soalnya lagi aku dah berani show up melankolic-ku di depan orang.

Inti cerita ini apa...?
Aku lagi nemu kondisi dimana aku bertemu dengan seseorang yang salah di waktu dan tempat yang benar.
Aku jadi gamang, seperti di atas kapal di tengah samudra dalam gelombang badai di malam gelap gulita.
Cuma bisa berteriak...

Kapten! Mana kapten...??? 



*Padangpanjang, adzan subuh setelah imsyak.

Minggu, 07 Juli 2013

Filosofi Buah Belimbing



Banyak orang pasti tau dengan starfruit atau yang biasa kita kenal dengan buah belimbing (Latin; Averrhoa Carambola),
buah yang kuning mengkilat dan bersegi lima ini dikenal dengan rasa manis keasaman.
Buah ini merupakan tanaman khas dari Indonesia, India dan Sri Langka*.
Buah ini berbakat untuk di jadikan wine, di fermentasikan untuk menjadi alkohol.
Meskipun banyak yang tau, tapi nggak semua orang menyukainya,
justru karena rasanya yang kadang cenderung asam dan gampang busuk.

Pohon Belimbing Dewa tumbuh di halaman rumahku,
di samping kolam kecil tempat adikku membesarkan banyak sekali ikan peliharaannya.
Ada cerita semalam yang mendadak membuatku berfikir tentang buah belimbing.
Bentuknya yang seperti bintang, mengkilat dan bersudut runcing.
Tapi sebenarnya buah belimbing bukan benar-benar berbentuk bintang,
kecuali kita mengirisnya, atau melihatnya dari pangkal atau ujung buah itu.

Itu dia,
sama seperti rasa kagum, rasa salut yang kita lihat dari orang lain.
Rasa seperti itu ternyata hanya akan ada ketika kita melihat dari satu sisi saja.
Kalau kita mencoba melihat dari sisi yang lain, kita hanya akan menemui bentuk yang aneh yang tidak kita kenali.
Buah belimbing, lihatlah dari dari samping,
kita hanya akan melihat satu sudut runcing yang mencuat, karena memang ujung-ujungnya pipih.
Tapi yang paling penting, 
buah belimbing, meskipun kita iris, kita jadikan juice, bahkan kalau kita telan bulat-bulat tetap akan jadi belimbing.
Rasanya akan tetap manis keasaman, tetap akan memiliki banyak air, tetap menyimpan vitamin c.
Bahkan sudutnya yang runcing tidak akan pernah melukai, karena memang sudutnya itu tidak tajam.

Meskipun mengkilat dan terlihat seperti melamin,
belimbing sangat rapuh, jangankan dengan cara menjatuhkannya, memegang dengan kuat saja bisa membuatnya rusak dan busuk.

Aku jatuh cinta pada keindahan belimbing,
pada filosofinya bentuknya yang indah, seperti keindahan seorang wanita,
kadang terlihat tajam, terasa asam, dan apabila berlebihan akan bisa memabukkan...
Dan di sisi lain, dia begitu rapuh,
bahkan setelah di petik, belimbing seolah-olah pasrah untuk segera membusuk dan layu.

Aku teringat bagaimana orang tua ku menjaga buah belimbing yang tumbuh di halaman rumah,
mereka membersihkannya,
menjaga bunganya, membungkus putiknya,
menjauhkan segala macam hama dari buahnya.
Seperti mereka menjaga ku.
Meskipun kelak aku akan di petik, mungkin untuk di nikmati atau sekedar untuk dibiarkan layu.



Padangpanjang yang dingin,
subuh menjelang pagi di hari senin.

*http://id.wikipedia.org/wiki/Belimbing

Senin, 01 Juli 2013

Sisa Secangkir Kopi di Pagi Ini

"Setelah pesta berakhir....
Malam gelap kembali di bungkam sunyi,
Malam tak berbintang, rembulan tak datang.
Bagai bayang kelam masa lalu..."

Free Wailing - Ranah Rasta

Mungkin semua orang pernah merasakan hal ini.
Ketika segala ke-suka cita-an telah berlalu, pasti hanya sepi yang menemani.
Kadang kita larut lagi, mencari pesta dalam bathin sendiri.
Sering, pada saat seperti inilah kita benar-benar merasakan rasa sendiri.
Menjadi tunggal, menjadi satu, hanya satu dengan diri sendiri.

Aku percaya, ketika ini terjadi maka kita tidak sebenar-benarnya manusia yang bahagia.
Kita larut dalam euforia canda,
dalam kesemuan yang kekal dan kadang justru menyakitkan.
Maka pada saat seperti ini lah kita ingin menertawakan diri sendiri.

Saat aku yang merasakan semua ini,
aku memilih untuk mematikan semua fikir,
berdiam diri, mengingat betapa kecilnya aku di dunia.
Mengenang kalau semua yang pernah aku jalani telah memaksaku menjadi sesuatu,
sesuatu yang kadang aku inginkan tetapi kadang juga tidak aku inginkan.
Semuanya mengingatkan kalau kadang aku terlalu banyak membohongi diri sendiri,
mencoba menghibur diri dengan kepura-puraan,
pura-pura kuat, pura-pura berani, pura-pura tegar, pura-pura mampu serta ratusan kepura-puraan yang lain.
Yang pada keseharian seolah-olah memang adalah bagian dari diri...

Atau, mungkin memang ini cara hidup menentukan pilihannya...?
Mungkin semuanya memang harus merasakan dan menjalani kepura-puraan ini...?
Dunia terkesan menuntut terlalu banyak dalam hidup,
sehingga banyak sekali yang akhirnya memilih lari dari kenyataan.

Yang aku inginkan sekarang justru hanya sedikit rasa terbuka dengan diriku sendiri,
tidak lagi bertopeng,
tapi aku tidak tau bagaimana caranya.
Mendadak menjadi melankolis, dan menyadari betapa aku sendiri.
Atau mungkin selama ini aku memang terlalu banyak menuntut kepada diriku sendiri.
Tapi aku percaya,
tidak ada seorangpun yang ingin hidup di dunia hanya sebagai peran figuran,
semua orang pasti ingin menjadi tokoh utama.
Sekalipun hanya untuk beberapa adegan dalam hidup...

Aku hanya ingin belajar bersyukur.

Pagi ini aku menyisir rambutku di depan kaca,
aku masih perempuan yang sama, yang meneguk secangkir kopi dan membakar beberapa batang rokok di pagi hari.
Ini bukan topeng, ini aku.
Sekalipun tidak banyak yang menyukainya,
ini aku.
Polos dan sadar, bahwa aku tidak pernah memakai topeng hanya di pagi hari...



*Padangpanjang,
dengan pagi yang lembab.

Jumat, 28 Juni 2013

Ternyata, ini semua karena "Listrik"

Jadi ceritanya, di Padangpanjang sekarang sering ada pemadaman listrik.
Hampir setiap hari ada jadwal 1 jam rata-rata untuk pemadaman.
Padahal, listrik sudah seperti makanan pokok,
masak pakai listrik, manasin air pake listrik,
mandi pake listrik, nyuci pake listrik, penerangan pake listrik,
nelfon pake listrik, online pake listrik.
Pokoknya segala macam yang pokok ya mesti pake listrik.

Aku tergelitik untuk berkhayal masuk ke dunia bertahun-tahun lalu,
Ibu ku pernah bercerita tentang masa sekolahnya dulu,
(pengen nangis kalo inget ceritanya...)
Dulu, once upon a time, a long long time ago...
In the midle of somewhere,
a small village yang gak ada di google map (mungkin emang karena waktu itu belom ada google map),
nama kampung kecil itu adalah Lubuak Basung, sebuah kampung dengan lahan pertanian yang luas,
daerah yang subur dengan aliran sungai membelah-belah kampung dengan indah.
Kok jadi ngomongin itu....???
>.<

Oke next, si mandeh cerita tentang bagaimana masa kecilnya dulu,
kata mandehku sayang, dia masih sempat ke sekolah nulis di kulit kayu.
Keren kan...?
Belajar malam-malam dengan lampu minyak,
penghapusnya masih dari karet gelang di lilitin di ujung pensil.
What'a simple and beautiful life... :)
Sekarang aku coba masuk ke dunia yang belum pernah aku rasakan itu,
mencoba berfikir dan merasa seperti orang-orang yang hidup di zaman itu.
Aku mencoba dengan keras...
Sekeras-kerasnya...
Tapi ternyata gak bisa... :P

Gak bisa karena ternyata sadar ataupun tidak sadar,
sejak lahir aku sudah di didik membutuhkan listrik,
bahkan orang tua sendiri mendidik ku untuk butuh listrik,
misalnya dengan cara "Rimaaaaa... Belajar jangan di tempat gelap, sana pindah ke bawah lampu biar terang...!"
Mungkin si mandeh mikir aku laron, mesti mangkal di bawah lampu... o.O
SMA di beliin handphone buat komunikasi, yang pasti butuh listrik,
kuliah di beliin laptop, listrik lagi...

Intinya, zaman sudah berubah, 
itu semua hanya contoh kecil dari kebutuhan manusia yang mau gak mau mesti butuh listrik.
Kita sudah ketergantungan dengan yang namanya listrik,
seperti kebutuhan memakai pakaian, makan, tempat tinggal.
Mungkin suatu hari nanti akan ada kebutuhan baru lagi yang tidak mungkin kita hindari.
Apapun itu, hidup berubah, caranya berubah, tujuannya berubah, alat-alat bantunya berubah.
Malam ini aku jadi semakin bersyukur, ada orang-orang cerdas yang telah membuat hidup lebih terang dengan listrik.
Terang karena cahayanya, 
terang karena segala hal yang bisa menjadi lebih mudah dengan listrik.
Malam ini, dengan listrik yang mati magrib tadi, aku jadi semakin jeli melihat,
melihat hal yang terkesan biasa, yang semestinya patut kita syukuri...



*Thank's buat Aan yang udah nganterin roti goreng coklat buat nemenin aku nulis.
^_^

Kamis, 27 Juni 2013

A Rainbow Cupcake for A Rainbow Life

Padangpanjang dengan hujan ba'da isya ini...
Tapi belum sanggup untuk melunturkan rasa gerah setelah panas seharian tadi.
Aku memilih untuk menghabiskan malam ini di kamar,
masih malas untuk mengerjakan tugas kuliah,
mungkin pilihanku akan jatuh pada film,
nonton film yang udah pernah aku tonton.

Browsing sebentar tadi baca-baca berita terbaru.
Tapi sama saja, tentang asap, tentang BBM, tentang korupsi.
Bosan...!

Ujung-ujungnya paling aku bakalan buka web yang ngebahas tentang kesehatan atau yang unik-unik,
baca-baca dikit, bilang wow dan ya... Lupa lagi infonya tentang apa.

Balik ke media sosial, malam ini tidak ada coklat,
aku rindu rainbow cake tapi mustahil untuk di dapatkan malam ini.
Semuanya menjadi lebih muastahil malam ini karena aku tidak berusaha untuk melakukan apapun, 
apalagi untuk mendapatkan apapun.

Ini hidup, kadang kita ingin mendapatkan sesuatu tapi terlalu malas untuk memperjuangkannya.
Aku seorang yang perfectionis, yang mengharapkan segala sesuatu bisa sempurna.
Tapi, aku malas berusaha.
Kadang aku berfikir kalau aku orang yang gagal, orang yang tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Tapi keinginan juga belum tentu sesuatu yang penting untuk di dapatkan,
karena belum tentu keinginan adalah apa yang kita butuhkan.
Kalo Iwan Fals bilang; 
"Keinginan adalah sumber penderitaan...
Letaknya di dalam fikiran..."

Setuju atau tidak, itu terserah.

Tiba-tiba memikirkan ini membuat nafasku lebih sesak untuk di hela.
Ternyata tidak ada jalan pulang dari sesalan, dari keinginan yang tidak sempat di perjuangkan,
Aku telah terjebak disana bertahun-tahun.
Sampai-sampai aku takut untuk mengatakan berapa usiaku.
Berusaha.
Kata kunci dari segala capaian, bukan keinginan.
Mungkin seharusnya diganti semuanya, dari keinginan menjadi capaian, sehingga aku, kamu, ataupun kita lebih keras berjuang.

Dan aku sadar,
aku benar-benar hidup.
Karena aku telah melewati ratusan kegagalan dalam mendapatkan keinginanku,
karena keinginan yang gagal itu membuat hidupku membiru, menjingga bahkan membara.
Seperti pelangi,
seperti rainbow cake yang tidak bisa kudapatkan malam ini...

Rabu, 26 Juni 2013

Another Chocolate Night

Seudah beberapa malam ini suntuk banget, ada banyak fikiran yang emang mau gak mau harus di fikirkan.

Ujian, tugas-tugas, bantuin karya teater teman, belum lagi suntuk karena udah lama gak ada hiburan.
Mendadak ditambah lagi kabar 3 hari yang lalu kalo kami semua yang ada di kost'an ini mesti pindah, karena yang punya rumah mo renovasi, mungkin ada niat buat kost yang lebih mewah seperti saingan-saingan kost-kost'an lain di sekeliling kampus.

Tapi bukan itu sebenarnya yang menjadi cerita utama,
semakin lama aku semakin menyadari ada kekurangan bagian dari jiwa,
aku seperti tidak kesepian dalam keramaian, padahal, hanya aku dan Tuhan yang tau.


Pilihan ku jatuh pada teman-teman dekat yang aku bisa percaya, mereka, -aku buat- selalu ada di dekatku,
lengkap pada posisi mereka masing-masing, ada yang nemenin makan, nemenin ngobrol, ngantarin kemana-mana.
Aaahh... Sebenar-benarnya tidak benar-benar membantu karena aku sendiri menutup diri dari apa yang sebenar-benarnya aku fikirkan.
Pusing kan...?

Tapi ada yang menarik,
cracker berlapis coklat keju yang kebetulan aku simpan sebagai stok cemilan.
berawal dari sinilah semuanya.
Percaya atau tidak, ketika teater tidak lagi bisa membuat aku tenang, musik tidak lagi membuat aku nyaman, coklat adalah pilihan terbaik.
Coklat memiliki kandungan kimia seperti fenetilamina dan anandamida yang kalo di konsumsi dalam jumlah teratur dalam menurunkan tekanan darah*.

Ternyata, coklat bikin melek.
Aku memilih online di salah satu jejaring sosial,
akhirnya beberapa malam ini aku habiskan dengan cara yang sama,
pembicaraan yang hampir sama,
teman cerita yang sama,
serta, coklat yang sama.

Biarlah aku terjebak dulu disini, di another chocolate night...

*http://id.wikipedia.org/wiki/Cokelat