Rabu, 31 Juli 2013

Antara Petasan dan Boom

Identik banget kalo udah ramadhan menjelang lebaran, ato tahun baru,
ada banyak bunyi petasan terdengar.
Kadang bunyinya dari kejauhan seperti menggelegar, memecahkan kesunyian dan bersahut-sahutan.
Aku,
selalu takut mendengarnya...

Entah atas alasan apaun orang selalu memanfaatkan moment ini dengan bunyi-bunyian itu.
Kadang sepintas seperti manusia berbahagia mendengar ada sesuatu di ledakkan,
kadang terasa seperti sedang meluapkan kemarahan ato emosi yang selama ini tidak sempat untuk 

dilepaskan.
Apa memang itu maksud dari pelepasan petasan itu...?

Kita manusia-manusia yang sering gagap dalam menanggapi suatu keadaan,
memilih solusi dengan mendekam emosi hingga suatu saat emosi itu meledak seperti sebuah boom yang 

bersumbu panjang.
Kita kadang lupa dimana batasan dan bahkan awalan dari emosi itu,
lalu terjebak pada pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan diri sendiri.
Akhirnya lari pada keadaan yang menyalahkan orang lain.

Malam ini dari dalam kamar terdengar ledakan-ledakan petasan yang cukup besar,
menggema sampai pada bayangan kematian orang-orang di tempat yang sedang berperang.
Aku tertegun membayangkan itu bukan suara petasan, tapi suara boom, di iringi jerit tangis orang-orang 

yang kesakitan.
Ah, khayalku semakin tinggi...

Aku-tentu-jadi ingat tentang diriku sendiri,
yang sering meledak-ledak ketika emosi, yang kadang berimbas pada sakit yang dirasakan orang lain.
Disaat-saat seperti itulah aku tidak lagi mengenali belas kasih, kesabaran.
Entah kenapa harus ada bunyi petasan malam ini,
entah kenapa pada minggu-minggu ini,
entah kenapa harus pada bulan ramadhan ini...?

Menekur sendiri,
ada pertanyaan-pertanyaan memalukan yang terbersit dalam fikiranku,
sekalipun ku alas dengan logika...
Malam ini, berharap aku bukan petasan itu, bukan boom dengan sumbu waktu,
bukan pula sumbu dari ledakan pertanyaan dalam 31 hari lagi.
Banyak harap, aku takut harapan juga akan menjadi pemicu dari ledakan itu,
entah itu hanya petasan entah itu sebuah boom.

H-31 < 27

Selasa, 23 Juli 2013

KAPTEN! MANA KAPTEN...???


Ceritanya tentang manusia lagi lah, biar aja orang bilang ini blog curhat... :P

Bagaimana rasanya bertemu dengan orang yang tepat tapi pada waktu dan tempat yang salah...?
Bukan itu yang sebenarnya akan kita bahas,
tapi kejadian lainnya... (rada mirip sich)
Aku bertemu dengan orang yang salah pada waktu dan tempat yang berbeda.
Sekian lama gak posting sebenarnya ada banyak cerita, banyak kisah, banyak ode yang tercipta.
Naskah sinetron kejar tayang saja rasanya sudah bisa aku ciptakan karena beberapa kejadian buruk yang kebetulan datang beruntun,
tapi syukurlah hidupku bukan cerita sinetron yang ending nya tergantung rating (karena biasanya rating sinetron tergantung banyaknya tetes air mata aktor utama).
Ini hari baik karena mood ku kembali -dipaksain- baik,
tapi aku tidak bisa bercerita terlalu detail disini karena blog ini buat umum jadi beberapa hal mesti di sensor, lebih kurang seperti film American Pie kalo masuk ke Indonesia yang udah di tonton duluan oleh Departemen Agama.

Apakah yang sedang terjadi...?
Ibaratkan kapal yang sedang berlayar di samudra dalam pekatnya malam tak berbintang dan di hempas gelombang badai (yang bilang lebay aku kutukin buat ngerasain ini...!).
Inilah yang terjadi,
cerita hidup itu seperti montage-montage, ceritanya banyak, permasalahannya banyak dan berbeda-beda namun tetap menjadi satu kesatuan cerita.
Meskipun begitu, jangan sesekali menganggap ini cerita sinetron karena sinetron mendidik kita dengan cara yang keterlaluan, standarnya sinetron itu tentang seorang perempuan miskin yang ditaksir oleh lelaki kaya yang sudah bertunangan dengan saudara sepupunya (biasanya-perempuan dengan alis mata sadis dan memakai eye shadow ungu tua kehitaman), si sepupu tidak ingin pertunangannya gagal hingga harus berjuang untuk menghancurkan perasaan lelaki kaya terhadap perempuan miskin dibantu oleh emak si sepupu yang bergaya orang kaya namun terlilit hutang.
Cerita di teruskan dengan siksaan dan air mata untuk si perempuan miskin, nenek lelaki kaya juga membenci perempuan miskin, om nya juga benci, keponaan nya juga benci, pembantunya juga benci, tetangganya juga benci, nenek tetangganya juga benci, om nya tetangga juga benci, keponaan tetangganya juga benci, pembantunya tetangga juga benci, tetangganya tetangga juga benci, teman se kost tetangga juga benci, temen kuliah dari temen kost nya tetangga juga benci, pokoknya semua benci sama perempuan miskin karena naskahnya bilang begitu...!
Tinggal lah perempuan miskin seorang diri meratapi hidup yang merana malang nestapa, hanya ibunya, yang seorang penjual goreng, yang sayang ama si perempuan miskin, karena dia anaknya dan di naskah di bilang begitu.
Pada suatu hari perempuan miskin panik, kalut galau dan stress, dia pingsan di jalan, dibantu seorang dokter (super hero dadakan-syuting 3 scene) membuka fakta bahwa perempuan miskin adalah anak kandung dari ibu lelaki kaya, setelah cek gen, ternyata lelaki kaya hanyalah anak yang tertukar di rumah sakit.
Semua mendadak menjadi baik dengan si perempuan miskin, semuanya baik, neneknya baik, om nya baik dan semua-semua menjadi baik (capek nulis lagi nama-nama yang udah di sebut di atas), tinggallah si sepupu yang beralis mata sadis dan eye shadow ungu tua kehitaman menjadi bingung.
Perempuan miskin menjadi kaya, menerima lelaki kaya yang mendadak miskin sebagai suaminya, berbagi harta bersama, keluarga aman sentosa, bahagia, sejahtera, adil makmur merata seperti yang tertulis dalam Pancasila.

Happy ending...????

Belum tentu, kawan...!

Ini tergantung rating sinetronnya, kalo rating naik, iklan masuk semakin banyak, ini artinya sinetron harus dilanjutkan biar kantong produser dan semua tim bertambah...
Setelah hidup bahagia, ternyata si perempuan miskin yang menjadi kaya mendadak kena kanker (korea-isme), sebelum mati dia tersiksa lagi karena kebetulan lagi hamil mo melahirkan.
Ini artinya si sepupu beralis sadis dengan eye shadow ungu tua kehitaman bisa beraksi lagi, menyiksa lagi, membuat tangis lagi. Perempuan miskin yang menjadi kaya dan sedang hamil mo melahirkan tapi kena kanker, menjadi lebih sering sholat, pake mukena, pake jilbab (karena tayangnya di bulan ramadhan).
Endingnya...?
Gampang, perempuan miskin mendadak kaya, sehat sampai lebaran, anaknya lucu keriting-keriting rambutnya, mereka kembali bahagia, lalu abis lebaran dia mati aja...

Lho...? Lho kok...???
Soalnya rating sinetron berkurang, penonton sinetron pulang kampung, sibuk masak rendang, opor, sate, dan belanja baju baru.

What The Fucking Shit Life Story...!!!

Hidup bukan sinetron, hidup itu ya hidup...
Seperti yang sedang aku hadapi sekarang, montage-montagenya kebetulan ber-isi-kan cerita sakit,
sakit hati, sakit badan dan sakit otak.
Tapi bukan berarti hidup gak ada baiknya, kadang hidup baik, kebangetan malah baiknya.
Aku gak curhat kok sekarang, soalnya lagi males di bilang melankolic, dan soalnya lagi aku dah berani show up melankolic-ku di depan orang.

Inti cerita ini apa...?
Aku lagi nemu kondisi dimana aku bertemu dengan seseorang yang salah di waktu dan tempat yang benar.
Aku jadi gamang, seperti di atas kapal di tengah samudra dalam gelombang badai di malam gelap gulita.
Cuma bisa berteriak...

Kapten! Mana kapten...??? 



*Padangpanjang, adzan subuh setelah imsyak.

Minggu, 07 Juli 2013

Filosofi Buah Belimbing



Banyak orang pasti tau dengan starfruit atau yang biasa kita kenal dengan buah belimbing (Latin; Averrhoa Carambola),
buah yang kuning mengkilat dan bersegi lima ini dikenal dengan rasa manis keasaman.
Buah ini merupakan tanaman khas dari Indonesia, India dan Sri Langka*.
Buah ini berbakat untuk di jadikan wine, di fermentasikan untuk menjadi alkohol.
Meskipun banyak yang tau, tapi nggak semua orang menyukainya,
justru karena rasanya yang kadang cenderung asam dan gampang busuk.

Pohon Belimbing Dewa tumbuh di halaman rumahku,
di samping kolam kecil tempat adikku membesarkan banyak sekali ikan peliharaannya.
Ada cerita semalam yang mendadak membuatku berfikir tentang buah belimbing.
Bentuknya yang seperti bintang, mengkilat dan bersudut runcing.
Tapi sebenarnya buah belimbing bukan benar-benar berbentuk bintang,
kecuali kita mengirisnya, atau melihatnya dari pangkal atau ujung buah itu.

Itu dia,
sama seperti rasa kagum, rasa salut yang kita lihat dari orang lain.
Rasa seperti itu ternyata hanya akan ada ketika kita melihat dari satu sisi saja.
Kalau kita mencoba melihat dari sisi yang lain, kita hanya akan menemui bentuk yang aneh yang tidak kita kenali.
Buah belimbing, lihatlah dari dari samping,
kita hanya akan melihat satu sudut runcing yang mencuat, karena memang ujung-ujungnya pipih.
Tapi yang paling penting, 
buah belimbing, meskipun kita iris, kita jadikan juice, bahkan kalau kita telan bulat-bulat tetap akan jadi belimbing.
Rasanya akan tetap manis keasaman, tetap akan memiliki banyak air, tetap menyimpan vitamin c.
Bahkan sudutnya yang runcing tidak akan pernah melukai, karena memang sudutnya itu tidak tajam.

Meskipun mengkilat dan terlihat seperti melamin,
belimbing sangat rapuh, jangankan dengan cara menjatuhkannya, memegang dengan kuat saja bisa membuatnya rusak dan busuk.

Aku jatuh cinta pada keindahan belimbing,
pada filosofinya bentuknya yang indah, seperti keindahan seorang wanita,
kadang terlihat tajam, terasa asam, dan apabila berlebihan akan bisa memabukkan...
Dan di sisi lain, dia begitu rapuh,
bahkan setelah di petik, belimbing seolah-olah pasrah untuk segera membusuk dan layu.

Aku teringat bagaimana orang tua ku menjaga buah belimbing yang tumbuh di halaman rumah,
mereka membersihkannya,
menjaga bunganya, membungkus putiknya,
menjauhkan segala macam hama dari buahnya.
Seperti mereka menjaga ku.
Meskipun kelak aku akan di petik, mungkin untuk di nikmati atau sekedar untuk dibiarkan layu.



Padangpanjang yang dingin,
subuh menjelang pagi di hari senin.

*http://id.wikipedia.org/wiki/Belimbing

Senin, 01 Juli 2013

Sisa Secangkir Kopi di Pagi Ini

"Setelah pesta berakhir....
Malam gelap kembali di bungkam sunyi,
Malam tak berbintang, rembulan tak datang.
Bagai bayang kelam masa lalu..."

Free Wailing - Ranah Rasta

Mungkin semua orang pernah merasakan hal ini.
Ketika segala ke-suka cita-an telah berlalu, pasti hanya sepi yang menemani.
Kadang kita larut lagi, mencari pesta dalam bathin sendiri.
Sering, pada saat seperti inilah kita benar-benar merasakan rasa sendiri.
Menjadi tunggal, menjadi satu, hanya satu dengan diri sendiri.

Aku percaya, ketika ini terjadi maka kita tidak sebenar-benarnya manusia yang bahagia.
Kita larut dalam euforia canda,
dalam kesemuan yang kekal dan kadang justru menyakitkan.
Maka pada saat seperti ini lah kita ingin menertawakan diri sendiri.

Saat aku yang merasakan semua ini,
aku memilih untuk mematikan semua fikir,
berdiam diri, mengingat betapa kecilnya aku di dunia.
Mengenang kalau semua yang pernah aku jalani telah memaksaku menjadi sesuatu,
sesuatu yang kadang aku inginkan tetapi kadang juga tidak aku inginkan.
Semuanya mengingatkan kalau kadang aku terlalu banyak membohongi diri sendiri,
mencoba menghibur diri dengan kepura-puraan,
pura-pura kuat, pura-pura berani, pura-pura tegar, pura-pura mampu serta ratusan kepura-puraan yang lain.
Yang pada keseharian seolah-olah memang adalah bagian dari diri...

Atau, mungkin memang ini cara hidup menentukan pilihannya...?
Mungkin semuanya memang harus merasakan dan menjalani kepura-puraan ini...?
Dunia terkesan menuntut terlalu banyak dalam hidup,
sehingga banyak sekali yang akhirnya memilih lari dari kenyataan.

Yang aku inginkan sekarang justru hanya sedikit rasa terbuka dengan diriku sendiri,
tidak lagi bertopeng,
tapi aku tidak tau bagaimana caranya.
Mendadak menjadi melankolis, dan menyadari betapa aku sendiri.
Atau mungkin selama ini aku memang terlalu banyak menuntut kepada diriku sendiri.
Tapi aku percaya,
tidak ada seorangpun yang ingin hidup di dunia hanya sebagai peran figuran,
semua orang pasti ingin menjadi tokoh utama.
Sekalipun hanya untuk beberapa adegan dalam hidup...

Aku hanya ingin belajar bersyukur.

Pagi ini aku menyisir rambutku di depan kaca,
aku masih perempuan yang sama, yang meneguk secangkir kopi dan membakar beberapa batang rokok di pagi hari.
Ini bukan topeng, ini aku.
Sekalipun tidak banyak yang menyukainya,
ini aku.
Polos dan sadar, bahwa aku tidak pernah memakai topeng hanya di pagi hari...



*Padangpanjang,
dengan pagi yang lembab.