Mungkin ini adalah tulisanku yang membuka sedikit aib,
entah kenapa aku berfikir bahwa aku harus menuliskannya...
Usia adalah sesuatu yang sebenarnya hanya kita jalani, usia bercerita tentang akan bagaimana kita mengahadapi kehidupan, usia juga yang mau tidak mau mengajarkan kita tentang segalanya.
Ini tentang usia, dan aku dibekap oleh usia ku pada saat ini,
merenung tentang apa yang sebenarnya sudah aku lakukan, tentang seberapa besar aku telah menjadi sesuatu bagi orang lain, bagaimana aku setelah hari ini, bagaimana aku menjalani kehidupanku kedepannya.
Tapi yang ingin aku akui pada saat ini adalah rasa sepiku,
pencarian tanpa henti untuk tempat berbagi masa depanku, pencarian teman untuk sisa usiaku.
Beberapa hari ini Tuhan kembali menggelitikku dengan cerita masa lalu, kesalahan-kesalahan fatalku sebagai perempuan yang sudah menjatuhkan nilaiku selama ini, Tuhan mengirimkan aku beberapa laki-laki yang dulu pernah menjadi "sahabat" bersenang-senang untukku, dan entah kenapa, respon pertama ku menghadapi mereka adalah marah.
Marah dengan kemarahan sempurna.
Marah dengan marah yang seolah-olah menjadi satu-satunya tameng untukku dalam mempertahankan harga diriku.
Aku jadi ingin bersumpah demi Tuhan bahwa aku ingin berubah menjadi lebih baik dalam menjaga nama baikku...!
Seseorang sering mengingatkanku tentang ini, bahwa aku terlalu sering menganggap orang lain menilaiku buruk, aku terlalu sensitif terhadap respon orang lain.
Ibu ku dulu juga sering mengingatkan ini...
I know,
life is never easy for everyone, everybody have they're own problem.
Aku tidak lagi bisa menutupi semua sepi ini setelah bertahun-tahun menjalani semuanya, hingga beberapa orang terpaksa menjadi bulan-bulanan untuk mendengarkan cerita-cerita emosional yang membosankan dari ku.
Aku tidak lagi bisa menutupi semua sepi ini setelah bertahun-tahun menjalani semuanya, hingga beberapa orang terpaksa menjadi bulan-bulanan untuk mendengarkan cerita-cerita emosional yang membosankan dari ku.
Bukan aku tidak mensyukuri segala nikmat dari Tuhan, aku hanya mulai lelah dengan penantian ini.
Bertahun-tahun yang lalu aku aku pernah jatuh cinta, jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dan itu sakit, bertahun-tahun sebelum itu, aku pernah terluka, luka yang sesakit-sakitnya sebelum aku tau rasanya jatuh cinta, lalu aku menjadi dendam dengan ini semua, seperti lapisan bola es, semakin menggelinding ke bawah, semakin besar dan banyak yang digilasnya,
tapi semakin besar dan semakin jauh dia menggelinding, maka akan semakin banyak benturan yang dihasilkan.
Tapi benturan tetap benturan, meskipun mampu membentuk arah, benturan juga selalu terasa menyakitkan...
Aku hidup dalam lingkungan yang berbahagia, dalam keluarga yang penuh kasih sayang, dengan teman-teman yang setia, dengan prestasi yang mungkin dicemburui orang lain.
Ini dia, ini sisi duniawi ku yang paling kubenci tapi tidak bisa kuhindari, semuanya terasa tidak pernah cukup, semua terasa tidak sempurna, terutama untuk yang satu itu.
Terus terang aku malu untuk menceritakan ini semua,
tapi siapa yang bisa menutupi luka dengan topeng selama usianya...?
Aku hanya ingin semua ini tidak sia-sia, aku hanya ingin penantian ini memiliki ujung yang indah karena lama kelamaan aku semakin cemburu dengan mereka semua,
aku merasa terkucilkan, jauh di belakang orang lain...
Aaahhh...
Ini masih panjang, masih banyak yang ingin aku tuliskan tapi aku sudah kehabisan kata-kata,
habis karena terbakar panas darahku, habis karena luntur oleh air mata,
habis karena tidak ada yang mengingatkanku bahwa ini hanya sebuah cerita.
Cerita yang kuharapkan benar-benar habis agar aku bisa memulai cerita yang baru.
tapi siapa yang bisa menutupi luka dengan topeng selama usianya...?
Aku hanya ingin semua ini tidak sia-sia, aku hanya ingin penantian ini memiliki ujung yang indah karena lama kelamaan aku semakin cemburu dengan mereka semua,
aku merasa terkucilkan, jauh di belakang orang lain...
Aaahhh...
Ini masih panjang, masih banyak yang ingin aku tuliskan tapi aku sudah kehabisan kata-kata,
habis karena terbakar panas darahku, habis karena luntur oleh air mata,
habis karena tidak ada yang mengingatkanku bahwa ini hanya sebuah cerita.
Cerita yang kuharapkan benar-benar habis agar aku bisa memulai cerita yang baru.
Aku lelah,
dan hanya Tuhan yang mengerti lelahku ini...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar