Senin, 30 Maret 2015

Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan...?

Lama sekali, bahkan jauh amat sangat lama udah gak nulis di sini.
Mendadak kangen nulis setelah membaca,
ya seperti kata mereka; "kalo suka baca, menulislah"
maka dari itu (entah sengaja entah terpaksa) akhirnya aku nulis lagi.

Ceritanya, beberapa hari yang lalu ada seorang artis muda yang meninggal dunia. Nama artis ini tersohor karena wajah ceria, mata berbinar dan tawanya.
Siapa yang menyangka kematiannya mendadak merubah isian semua acara infotainment meskipun sebelumnya (si artis sempat sakit setahun) banyak tersiar kabar hoax tentang kematiannya. Pertanyaannya adalah, kenapa ada amat sangat luar biasa banyak sekali kabut duka menyelimuti setelah kematiannya...?

Dulu, zaman aku masih putih biru-putih abu abu, aku sempat belajar peribahasa, salah satunya "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan budi". Budi yang dimaksud disini tentu aja bukan budi teman kuliahku dulu yang hobi berscooter tapi budi yang ada dalam aturan hidup manusia karena mereka berakal, terserah apa itu akal sehat atau akal gak sehat, terserah saja.

Nah, soal artis ini, ribuan orang rela menangis sekalipun hanya mengenalnya lewat TV dalam beberapa tayangan, tapi kabar yang terkabar adalah si artis ini sudah membuat banyak orang merasa berhutang budi.
Itu dia, kebaikan, hati, budaya, fikiran yang berujung budi.
Siapa sih manusia selain budi nya?

Pada zaman yang edan seperti sekarang, budi jarang sekali kita temui. Rasanya kadang lebih gampang menemukan seorang koruptor atau begal motor. Usut punya cerita, si artis baiknya kebangetan, hatinya lembut dan sensitif, pencinta rakyat tak mampu. Berbanding terbalik dengan orang-orang yang terbalik (males nulis detail, nanti dilaporkan, dikriminalisasi, disomasi, ditahan, dijemput paksa, dan lain-lain yang gak enak-enak berkaitan dengan UU IT).
Jadi terang sudah, sesuatu yang gampang dimaknai, mungkin si artis pernah berpakaian dan berdandan ala perempuan demi menghibur, tapi dia lebih gagah dari pada bapak kita yang berdasi dan sibuk meng-atas-namakan rakyat.

Budi oh budi, ternyata se edan-edannya kondisi sekarang, semumet-mumetnya hidup, selabil-labilnya harga bbm, manusia jauh di lubuk hatinya yang nyelam dalam masih bisa membaca nurani, si artis di tangisi karena dia baik hati, hanya karena itu, simple.

Jadi, matilah dengan budi.
Percayalah, malaikat gak bisa di sogok, gak hobby korupsi, gak ada sodaranya buat di ajak kolusi, pangkatnya pasti.


Catatan ngeyel saja ini, dari pada blog gak aktif...
Peace... :P

Tidak ada komentar:

Posting Komentar