Tulisan ini adalah cacatan ku, sedikit berbau pribadi,
tentang aku, hidup dan semua yang terjadi dalam kesehariaku.
Tidak ada paksaan bagi siapapun untuk membacanya...
Sudah beberapa hari aku berfikir untuk kembali menulis lagi,
tentang aku, hidup dan semua yang terjadi dalam kesehariaku.
Tidak ada paksaan bagi siapapun untuk membacanya...
Sudah beberapa hari aku berfikir untuk kembali menulis lagi,
tapi terlalu banyak hal kecil yang aku fikirkan sehingga aku lupa apa hal terbesar dari banyak hal kecil itu.
Semalam, tanpa sengaja aku ngobrol dengan salah satu teman kost, karena terus terang aku pulang ke kost dan sama sekali tidak tau apa yang akan aku lakukan untuk membunuh waktu.
I'm kind of nervous now, waiting for tomorrow and wish there will be something or somebody that can spend time with me.
So, satu-satunya yang terfikir adalah rumah.
Rumah lengkap dengan kedua orang tuaku, dengan aroma bumbu dan buah-buahan di dapur, aroma embun di pagi hari dan aroma potongan rumput di halamannya.
Aku home sick, berharap bisa berada dalam lingkungan orang-orang yang mencintaiku besok.
Back again, teman kost ku itu WNA, orang tua, keluarga dan teman-temannya di Madagaskar, dia bercerita tentang betapa home sick nya dia selama hampir 2 tahun tinggal di Indonesia.
Ya, aku patut bersyukur karena orang tuaku tidak benar-benar jauh dariku.
Terlepas dari itu semua,
Ya, aku patut bersyukur karena orang tuaku tidak benar-benar jauh dariku.
Terlepas dari itu semua,
pemicu dari home sick ku adalah, entah kenapa dalam beberapa bulan kebelakang, aku merasa menjadi semakin "lemah", aku tidak berani menghadapi tantangan-tantangan, aku melulu bersikap negatif,
dan itu berdampak buruk.
Aku kehilangan keceriaan, aku kehilangan rasa bahagia dalam hidupku,
dan yang pasti I've never stop to feel regrets to my self.
Honestly, "regrets" it's sh*t. Regrets put people down and drive us crazy...!
Dan aku kehilangan banyak hal dan kesempatan karena penyesalan itu.
Tentu saja apa yang sudah berlalu tidak dapat diulangi lagi, apalagi untuk dirubah.
Kita semua sebenarnya tidak bisa melakukan apapun untuk masa yang sudah terjadi...
Teman ku itu bercerita, ayahnya pernah menasehatinya.
"Stop to feel regrets about your past,
because you live for future"
Entahlah aku harus berfikir apa...
Aku ngerasa bahwa keadaannya semakin menginjak-injakku, bahwa aku semakin takut menghadapi kenyataan tentang apa yang sudah aku lakukan pada masa laluku, tentang apa dan siapa aku pada hari ini.
Aku lupa bahwa dulu aku cukup kuat,
cukup kuat menghadapi semuanya (kadang dalam keadaan sendiri), hingga akhirnya aku bisa bertahan, face my fears and defeat it hingga sekarang.
But now, aku kehilangan pejuang itu dalam diriku.
Tapi tentu saja ini semua pasti beralasan, bukan hanya sesuatu yang tiba-tiba hadir dalam fikiranku.
Tapi aku tidak mau membahasnya sekarang, karena aku takut dalam kondisi emosi yang gak stabil ini hanya akan membuatku semakin merasa buruk, menyalahkan orang lain, atau bahkan menyalahkan Tuhan.
Aku cuma sedang mencoba meredam semuanya,
mengajari fikiranku untuk kembali positif, tidak lagi menyalahkan dan menuntut keadaan,
aku hanya ingin kembali bisa ceria dan berani menghadapi hidup,
karena hidup memang tidak bisa dihindari, hidup juga tidak bisa hanya dijalani.
Hidup semestinya dihadapi,
terserah akan dihadapi dengan senyum, dengan tangis, tawa atau bahkan amarah.
dan itu berdampak buruk.
Aku kehilangan keceriaan, aku kehilangan rasa bahagia dalam hidupku,
dan yang pasti I've never stop to feel regrets to my self.
Honestly, "regrets" it's sh*t. Regrets put people down and drive us crazy...!
Dan aku kehilangan banyak hal dan kesempatan karena penyesalan itu.
Tentu saja apa yang sudah berlalu tidak dapat diulangi lagi, apalagi untuk dirubah.
Kita semua sebenarnya tidak bisa melakukan apapun untuk masa yang sudah terjadi...
Teman ku itu bercerita, ayahnya pernah menasehatinya.
"Stop to feel regrets about your past,
because you live for future"
Entahlah aku harus berfikir apa...
Aku ngerasa bahwa keadaannya semakin menginjak-injakku, bahwa aku semakin takut menghadapi kenyataan tentang apa yang sudah aku lakukan pada masa laluku, tentang apa dan siapa aku pada hari ini.
Aku lupa bahwa dulu aku cukup kuat,
cukup kuat menghadapi semuanya (kadang dalam keadaan sendiri), hingga akhirnya aku bisa bertahan, face my fears and defeat it hingga sekarang.
But now, aku kehilangan pejuang itu dalam diriku.
Tapi tentu saja ini semua pasti beralasan, bukan hanya sesuatu yang tiba-tiba hadir dalam fikiranku.
Tapi aku tidak mau membahasnya sekarang, karena aku takut dalam kondisi emosi yang gak stabil ini hanya akan membuatku semakin merasa buruk, menyalahkan orang lain, atau bahkan menyalahkan Tuhan.
Aku cuma sedang mencoba meredam semuanya,
mengajari fikiranku untuk kembali positif, tidak lagi menyalahkan dan menuntut keadaan,
aku hanya ingin kembali bisa ceria dan berani menghadapi hidup,
karena hidup memang tidak bisa dihindari, hidup juga tidak bisa hanya dijalani.
Hidup semestinya dihadapi,
terserah akan dihadapi dengan senyum, dengan tangis, tawa atau bahkan amarah.
Aku ingin menata semua keberanian itu lagi, membuatnya ada lagi dan memperbaiki bulan-bulan ku yang sempat down ini.
Aku ingin memperbaiki semuanya sebelum terlambat,
sebelum detik jam menuju 12 pada malam ini,
sebelum kereta kudaku kembali menjadi sebuah labu,
sebelum aku menua,
sebelum aku merasa kesepian lagi.
Aku ingin memperbaiki semuanya sebelum terlambat,
sebelum detik jam menuju 12 pada malam ini,
sebelum kereta kudaku kembali menjadi sebuah labu,
sebelum aku menua,
sebelum aku merasa kesepian lagi.
Tapi aku akan tetap menunggu,
siapa orang-orang yang memang benar-benar ada untuk hidupku.
Padangpanjang, H-1
teman madagaskar... yang cewek itu yah? (asal nebak)
BalasHapusklo bener orang yang itu,aku kenal,, doi punya ortu asuh,,, maksudnya orang tua angkat gitu disini...
terus menulis....
better than update status.hehe
Bukan, temen laki-laki.
BalasHapusHahahaha...!
Ya, thanks.
oh saya salah klo gitu,, hehehe.
BalasHapus