*Tidak ada niat menggurui dalam tulisan ini,
semuanya lahir dari logika yang melintasi hati,
maaf apabila ada kesamaan cerita, maka harap dimaklumi saja ya... ^_^
Idul Fitri ato yang identik dengan istilah "lebaran" pasti bukan sesuatu yang asing lagi di telinga kita semua. Semua kita tau bahwa lebaran adalah kemenangan bagi umat muslim dunia,
hari dimana kita bisa kembali memulai kehidupan yang baru sebagai seorang umat, kembali bisa makan di siang hari, kembali berkumpul bareng keluarga atau kembali membeli banyak hal baru untuk digunakan.
Kemaren sore aku terpana melihat TV, di salah satu stasiun TV menayangkan berita tentang shalat Ied di jalur Gaza.
Ini bukan tentang Gaza dan peperangan tiada hentinya,ini bukan tentang kemanusiaannya, tapi tentang pakaian yang mereka gunakan untuk shalat Ied.
Aku tidak melihat keseragaman mukena berwarna putih dengan rajutan indah di ujung kainnya, tapi yang kulihat hanyalah pakaian muslim biasa dengan warna-warna biasa, dan shalat yang lebih khusu'.
Heran, aku bertanya pada adikku yang kebetulan bersekolah di pesantren dan sejak SD sudah mendalami ilmu agama, ternyata shalat tidak harus menggunakan mukena, cukup pakaian yang menutupi aurat dan yang penting bersih.
(mungkin akan ada orang yang berkata --> "baru tau ya, Rima. Kemana aja...?")
Ya... Faktanya aku baru tau sejelas ini...! Dan tiba-tiba aku jadi berfikir tentang makna lebaran yang kita jalani pada zaman sekarang.
Selama bulan Ramadhan kita diajari dan mengajari diri menjadi lebih sabar, tenang, berbagi dan menahan segala nafsu dunia, tapi pada akhir Ramadhan kita sudah merusak itu semua.
Selalu keluar pertanyaan;
Selama bulan Ramadhan kita diajari dan mengajari diri menjadi lebih sabar, tenang, berbagi dan menahan segala nafsu dunia, tapi pada akhir Ramadhan kita sudah merusak itu semua.
Selalu keluar pertanyaan;
"Udah beli baju lebaran...?"
"Udah beli kue...?"
"Udah beli kue...?"
"Rendang ato opornya berapa kilo...?"
"Di rumah masak apa, Lontong atau ketupat...?"
"Lebih baik pulang kampung pake mobil baru ya...?"
"Toples kue yang lama kita ganti yang baru aja ya...?"
"Sofa udah gak modelnya lagi, apa gak diganti...?"
Atau ribuan pertanyaan menjerumuskan yang lain.
Beberapa hari menjelang lebaran, mall-mall dipenuhi ratusan bahkan ribuan orang, pasar-pasar juga begitu, dimana-mana orang berbelanja besar-besaran,
duit dihamburkan sebanyak-banyaknya untuk merayakan kemenangan...!!!
Kemenangan apa...?
Kemenangan menahan nafsu duniawi selama sebulan penuh...?
Kemenangan karena Ramadhan mau gak mau harus berakhir...?
Lalu kita kembali riya', lupa cara berbagi, lupa cara menahan, lupa cara bersabar.
Kita lupa hakikat dari Ramadhan tentang merasakan apa yang dirasakan umat muslim yang tidak bisa hidup berlimpah.
"Toples kue yang lama kita ganti yang baru aja ya...?"
"Sofa udah gak modelnya lagi, apa gak diganti...?"
Atau ribuan pertanyaan menjerumuskan yang lain.
Beberapa hari menjelang lebaran, mall-mall dipenuhi ratusan bahkan ribuan orang, pasar-pasar juga begitu, dimana-mana orang berbelanja besar-besaran,
duit dihamburkan sebanyak-banyaknya untuk merayakan kemenangan...!!!
Kemenangan apa...?
Kemenangan menahan nafsu duniawi selama sebulan penuh...?
Kemenangan karena Ramadhan mau gak mau harus berakhir...?
Lalu kita kembali riya', lupa cara berbagi, lupa cara menahan, lupa cara bersabar.
Kita lupa hakikat dari Ramadhan tentang merasakan apa yang dirasakan umat muslim yang tidak bisa hidup berlimpah.
Aku bukan seorang muslimah sejati yang putih suci dari dosa,
aku hanya seorang perempuan duniawi biasa yang kadang mengejar nafsu juga.
Tapi entah kenapa, tersentak rasanya menyaksikan semua ini, bahwa kita sudah menafikkan kembali apa yang kita pelajari selama sebulan kebelakang hanya karena kita salah menafsirkan kata "kemenangan".
Apa setelah ini kita akan kembali berdoa dengan berlinang air mata, ato berbagi dengan saudara sesama muslim, ato bersedekah kepada fakir, ato sabar menahan amarah dan nafsu dunia, ato bersilaturahim lagi dengan tetangga...?
aku hanya seorang perempuan duniawi biasa yang kadang mengejar nafsu juga.
Tapi entah kenapa, tersentak rasanya menyaksikan semua ini, bahwa kita sudah menafikkan kembali apa yang kita pelajari selama sebulan kebelakang hanya karena kita salah menafsirkan kata "kemenangan".
Apa setelah ini kita akan kembali berdoa dengan berlinang air mata, ato berbagi dengan saudara sesama muslim, ato bersedekah kepada fakir, ato sabar menahan amarah dan nafsu dunia, ato bersilaturahim lagi dengan tetangga...?
Kenapa waktu lebaran orang gila-gilaan meng-upload foto masakan lebaran dan foto menggunakan baju lebarannya ke jejaring sosial...?
Itukah hikmah sabar selama ini...?
Aku hanya ingin menulis tentang ini, abaikan saja dulu orang-orang miskin yang tidak memiliki cukup uang untuk membeli baju baru, kue lebaran yang banyak, memasak rendang ato opor ayam berkilo-kilo.
Lupakanlah itu semua, lupakan saja dulu...
Tapi fikirkan apa yang telah kita lakukan, kita perbuat untuk merayakan lebaran.
Benarkah ini masih dalam batas wajar...?
Benarkah ini belum merusak pelajaran iman kita selama Ramadhan...?
Itukah hikmah sabar selama ini...?
Aku hanya ingin menulis tentang ini, abaikan saja dulu orang-orang miskin yang tidak memiliki cukup uang untuk membeli baju baru, kue lebaran yang banyak, memasak rendang ato opor ayam berkilo-kilo.
Lupakanlah itu semua, lupakan saja dulu...
Tapi fikirkan apa yang telah kita lakukan, kita perbuat untuk merayakan lebaran.
Benarkah ini masih dalam batas wajar...?
Benarkah ini belum merusak pelajaran iman kita selama Ramadhan...?
Hanya Allah yang bisa menjawabnya...
*Lebaran kedua, 9 Agustus 2013.
-21 jelang 27.
lama2 kok ngerasa lebaran bukan kayak ceremony keagamaan yg harus dijalani dgn khusuk yag mam,tp udah kayak semacam tradisi ato budaya konsumtif. . . kita seperti terjebak HARUS mengikuti kebiasaan yg stiap tahunny HARUS ada yg baru, termasuk tukar khepeng baru yg tagang2 bin badaruak2 kek karapuak itu. . hahaha. . .
BalasHapus#Sorry baru sempat koment mam, tp dr awal aku slalu baca tulisan mu kok. . .* Nice blog and opinion. . . ;-)
Bener banget, Lin...
BalasHapusKesannya lebaran jadi budaya pembaharuan, semua mesti baru.
Padahal kan itu mendekati riya' kalo di ikutin terus,
kita juga jadi lupa ama apa yang udah di pelajari selama Ramadhan,
padahal baru waktu Ramadhan kita bisa isi ulang batre iman dengan baik.
Makasi banyak dah baca selalu,
masih baru sich, jadi kadang masih banyak ngaco dalam nulis.
Hehehe... :D