Minggu, 07 Juli 2013

Filosofi Buah Belimbing



Banyak orang pasti tau dengan starfruit atau yang biasa kita kenal dengan buah belimbing (Latin; Averrhoa Carambola),
buah yang kuning mengkilat dan bersegi lima ini dikenal dengan rasa manis keasaman.
Buah ini merupakan tanaman khas dari Indonesia, India dan Sri Langka*.
Buah ini berbakat untuk di jadikan wine, di fermentasikan untuk menjadi alkohol.
Meskipun banyak yang tau, tapi nggak semua orang menyukainya,
justru karena rasanya yang kadang cenderung asam dan gampang busuk.

Pohon Belimbing Dewa tumbuh di halaman rumahku,
di samping kolam kecil tempat adikku membesarkan banyak sekali ikan peliharaannya.
Ada cerita semalam yang mendadak membuatku berfikir tentang buah belimbing.
Bentuknya yang seperti bintang, mengkilat dan bersudut runcing.
Tapi sebenarnya buah belimbing bukan benar-benar berbentuk bintang,
kecuali kita mengirisnya, atau melihatnya dari pangkal atau ujung buah itu.

Itu dia,
sama seperti rasa kagum, rasa salut yang kita lihat dari orang lain.
Rasa seperti itu ternyata hanya akan ada ketika kita melihat dari satu sisi saja.
Kalau kita mencoba melihat dari sisi yang lain, kita hanya akan menemui bentuk yang aneh yang tidak kita kenali.
Buah belimbing, lihatlah dari dari samping,
kita hanya akan melihat satu sudut runcing yang mencuat, karena memang ujung-ujungnya pipih.
Tapi yang paling penting, 
buah belimbing, meskipun kita iris, kita jadikan juice, bahkan kalau kita telan bulat-bulat tetap akan jadi belimbing.
Rasanya akan tetap manis keasaman, tetap akan memiliki banyak air, tetap menyimpan vitamin c.
Bahkan sudutnya yang runcing tidak akan pernah melukai, karena memang sudutnya itu tidak tajam.

Meskipun mengkilat dan terlihat seperti melamin,
belimbing sangat rapuh, jangankan dengan cara menjatuhkannya, memegang dengan kuat saja bisa membuatnya rusak dan busuk.

Aku jatuh cinta pada keindahan belimbing,
pada filosofinya bentuknya yang indah, seperti keindahan seorang wanita,
kadang terlihat tajam, terasa asam, dan apabila berlebihan akan bisa memabukkan...
Dan di sisi lain, dia begitu rapuh,
bahkan setelah di petik, belimbing seolah-olah pasrah untuk segera membusuk dan layu.

Aku teringat bagaimana orang tua ku menjaga buah belimbing yang tumbuh di halaman rumah,
mereka membersihkannya,
menjaga bunganya, membungkus putiknya,
menjauhkan segala macam hama dari buahnya.
Seperti mereka menjaga ku.
Meskipun kelak aku akan di petik, mungkin untuk di nikmati atau sekedar untuk dibiarkan layu.



Padangpanjang yang dingin,
subuh menjelang pagi di hari senin.

*http://id.wikipedia.org/wiki/Belimbing

Tidak ada komentar:

Posting Komentar