Senin, 01 Juli 2013

Sisa Secangkir Kopi di Pagi Ini

"Setelah pesta berakhir....
Malam gelap kembali di bungkam sunyi,
Malam tak berbintang, rembulan tak datang.
Bagai bayang kelam masa lalu..."

Free Wailing - Ranah Rasta

Mungkin semua orang pernah merasakan hal ini.
Ketika segala ke-suka cita-an telah berlalu, pasti hanya sepi yang menemani.
Kadang kita larut lagi, mencari pesta dalam bathin sendiri.
Sering, pada saat seperti inilah kita benar-benar merasakan rasa sendiri.
Menjadi tunggal, menjadi satu, hanya satu dengan diri sendiri.

Aku percaya, ketika ini terjadi maka kita tidak sebenar-benarnya manusia yang bahagia.
Kita larut dalam euforia canda,
dalam kesemuan yang kekal dan kadang justru menyakitkan.
Maka pada saat seperti ini lah kita ingin menertawakan diri sendiri.

Saat aku yang merasakan semua ini,
aku memilih untuk mematikan semua fikir,
berdiam diri, mengingat betapa kecilnya aku di dunia.
Mengenang kalau semua yang pernah aku jalani telah memaksaku menjadi sesuatu,
sesuatu yang kadang aku inginkan tetapi kadang juga tidak aku inginkan.
Semuanya mengingatkan kalau kadang aku terlalu banyak membohongi diri sendiri,
mencoba menghibur diri dengan kepura-puraan,
pura-pura kuat, pura-pura berani, pura-pura tegar, pura-pura mampu serta ratusan kepura-puraan yang lain.
Yang pada keseharian seolah-olah memang adalah bagian dari diri...

Atau, mungkin memang ini cara hidup menentukan pilihannya...?
Mungkin semuanya memang harus merasakan dan menjalani kepura-puraan ini...?
Dunia terkesan menuntut terlalu banyak dalam hidup,
sehingga banyak sekali yang akhirnya memilih lari dari kenyataan.

Yang aku inginkan sekarang justru hanya sedikit rasa terbuka dengan diriku sendiri,
tidak lagi bertopeng,
tapi aku tidak tau bagaimana caranya.
Mendadak menjadi melankolis, dan menyadari betapa aku sendiri.
Atau mungkin selama ini aku memang terlalu banyak menuntut kepada diriku sendiri.
Tapi aku percaya,
tidak ada seorangpun yang ingin hidup di dunia hanya sebagai peran figuran,
semua orang pasti ingin menjadi tokoh utama.
Sekalipun hanya untuk beberapa adegan dalam hidup...

Aku hanya ingin belajar bersyukur.

Pagi ini aku menyisir rambutku di depan kaca,
aku masih perempuan yang sama, yang meneguk secangkir kopi dan membakar beberapa batang rokok di pagi hari.
Ini bukan topeng, ini aku.
Sekalipun tidak banyak yang menyukainya,
ini aku.
Polos dan sadar, bahwa aku tidak pernah memakai topeng hanya di pagi hari...



*Padangpanjang,
dengan pagi yang lembab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar